Setyabudi
Wong
Lamongan Asli.
TEORI APLIKASI OP-AMP
1.1
Pendahuluan
Pada bagian ini dibahas tentang macam macam teori
yang mendasar dan juga sebagian untuk terapan suatu rangkaian. Pembahasan
dilengkapi dengan latihan soal dan soal soal tersebut yang harus dikerjakan
oleh siswa untuk mencapai target tujuan dari mata kuliah ini. Model dari
pertanyaan disengaja membalik balikkan permasalahan sehingga terkesan banyak
pertanyaan.
1.2 Inverting
Inverting amplifier ini, input
dengan outputnya berlawanan polaritas. Jadi ada tanda minus pada rumus
penguatannya. Penguatan inverting amplifier adalah bisa lebih kecil nilai
besaran dari 1, misalnya -0.2 , -0.5 , -0.7 , dst dan selalu negatif. Rumus nya
: 
Gambar 1.1
Rangkaian inverting Amplifier
1.3 Non-Inverting
Rangkaian non inverting ini
hampir sama dengan rangkaian inverting hanya perbedaannya adalah terletak pada
tegangan inputnya dari masukan noninverting.
Rumusnya
seperti berikut :
sehingga persamaan menjadi
Hasil
tegangan output noninverting ini akan lebih dari satu dan selalu positif. Rangkaian
nya adalah seperti pada gambar berikut ini :
Gambar
1.2
Noninverting Amplifier
1.4 Buffer
Rangkaian buffer adalah
rangkaian yang inputnya sama dengan hasil outputnya. Dalam hal
ini seperti rangkaian common colektor yaitu berpenguatan = 1.
Rangkaiannya
seperti pada gambar berikut ini
Gambar
1.2
Rangkaian Buffer
Nilai R yang terpasang gunanya
untuk membatasi arus yang di keluarkan. Besar nilainya tergantung dari indikasi
dari komponennya, biasanya tidak dipasang alias arus dimaksimalkan sesuai
dengan kemampuan op-ampnya.
1.5 Add
/ Penjumlah
Rangkaian penjumlah atau
rangkaian adder adalah rangkaian penjumlah yang dasar rangkaiannya adalah
rangkaian inverting amplifier dan hasil outputnya adalah dikalikan dengan penguatan
seperti pada rangkaian inverting. Pada dasarnya nilai outputnya adalah jumlah
dari penguatan masing masing dari inverting, seperti :
Bila Rf =
Ra = Rb = Rc, maka persamaan menjadi :
Tahanan Rom gunanya adalah untuk
meletak titik nol supaya tepat, terkadang tanpa Rom sudah cukup stabil. Maka
rangkaian ada yang tanpa Rom juga baik hasilnya. Rangkaian penjumlah dengan menggunakan
noninverting sangat suah dilakukan karena tegangan yang diparalel akan menjadi tegangan
terkecil yang ada., sehingga susah terjadi proses penjumlahan.
Gambar
1.3
Rangkaian penjumlah dengan hasil negatif
1.6 Subtractor/
Pengurang
Rangkaian pengurang ini berasal
dari rangkaian inverting dengan memanfaatkan masukan non-inverting, sehingga
persamaannya menjadi sedikit ada perubahan. Rangkaian ini bisa terdiri 2 macam
yaitu :
a. Rangkaian dengan 1 Op Amp.
b. Rangkaian dengan 2 Op Amp.
c.
Rangkaian
dengan 3 Op Amp.
Rangkaian pengurang dengan 1 op-amp ini memanfaatkan
kaki inverting dan kaki noninverting. Supaya benar benar terjadi pengurangan
maka nilai dibuat seragam seperti gambar. Rumusnya
adalah:
Sehingga
Gambar
1.4
Rangkaian pengurang dengan 1 op-amp
Rangkaian pengurang dengan 2
op-amp tidak jauh berbeda dengan satu opamp, yaitu salah satu input dikuatkan
dulu kemudian dimasukkan ke rangkaian pengurang, seperti gambar dibawah ini. Perhitungan
rumus yang terjadi pada titik Vz adalah :
Sehingga V0 menjadi
Bila Rf=Ri
maka persamaannyaakan menjadi :
Gambar
1.5
Rangkaian pengurang dengan 2 op-amp
Rangkaian pengurang dengan 3
op-amp sangat lah beda dengan yang lainnya. Ada 3macam proses yang terjadi
disini seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar
1.6
Rangkaian pengurang dengan 3 op-amp
Gambar
1.7
Proses mencari persamaan dari rangkaian pengurang 3 op-amp
Rangkaian penguat dengan 3
op-amp seperti pada gambar dibawah ini sangat persis seperti rangkaian penguat
dengan 1 op-amp. Hal ini karena sebelum masuk dilewatkan buffer saja. Perhitungannya
pun sama dengan rangkaian pengurang 1 op-amp.
Gambar
1.8
Rangkaian pengurang 3 op-amp dengan buffer
1.7 Comparator/ Pembanding
Rangkaian
pembanding ini ada 3 macam yaitu :
a.
Rangkaian
pembanding 1 op-amp tanpa jendela input
b.
Rangkaian
pembanding 1 op-amp dengan jendela input
c.
Rangkaian
pembanding 2 op-amp dengan jendela input proses output luar
d.
Rangkaian
pembanding 2 op-amp dengan jendela input proses output dalam
Rangkaian pembanding dengan 1
op-amp tanpa jenjela input, artinya rangkaian komparator/pembanding yang
langsung dibandingkan. Seperti pada gambar berikut ini adalah komparator biasa
dan hasilnya langsung dibandingkan dengan referensinya.
Rangkaian komparator dengan
jendela input rangkaiannya hampir sama dengan rangkaian noninverting hanya saja
parameternya terbalik. Seperti pada gambar berikut ini dan contoh hasil dari input
dan outputnya dan perhitungannya.
Gambar
1.9
Rangkaian komparator /pembanding dengan referensi o volt
Gambar
1.10
Rangkaian komparator dengan jendela
Perhitungan
menentukan jendela Volt reference Up (Vru) dan Volt reference low (Vrl) adalah sebagai berikut :
Sedangkan
untuk komparator dengan 2 op-amp ada 3 macam variasi seperti gambar berikut:
Gambar
1.11
Rangkaian komparator 2 opamp dengan output negatif
Gambar
1.12
Rangkaian komparator 2 op-amp dengan output campuran
Gambar
1.13
Rangkaian komparator 2 opamp dengan output negatif
Aplikasi untuk komparator
semacam ini bisa dilihat dari hasil outputnya. Misal menginginkan hanya didalam
window saja yang di proses atau hanya diluar window saja yang diproses dan
sebagainya.
1.8 Differensiator.
Rangkaian differensiator adalah
rangkaian aplikasi dari rumusan matematika yang dapat dimainkan (dipengaruhi)
dari kerja kapasitor. Rangkaian nya seperti pada gambar 2.25 dengan rangkaian
sederhana dari differensiator. Untuk mendapatkan rumus differensiator,
urutannya adalah sebagai bagai berikut :
selisih
dari inverting input dan noninverting input (v1 dan v2) adalah nol dan
penguatan tegangannya sangat besar, maka didapat persamaan pengisian kapasitor
sebagai berikut :
Gambar 1.14
Rangkaian Differensiator Op-amp.
Pada rangkaian aplikasi
rangkaian differensiator op-amp ini ada sedikit perubahan yaitu penambahan tahanan
dan kapasitor yang fungsinya untuk menfilter sinyal masukan. Seperti tampak
pada gambar 1.15 adalah rangkaian differensiator yang dimaksud. Dengan demikian
maka ada batasan input dari frekuensi yang masuk, batasan tersebut adalah
sedangkan
nilai frekuensi yang diakibatkan oleh RF dan C1 adalah sebagai berikut :
Bila
sinyal input melebihi frekuensi fa maka hasil output akan sama dengan hasil
input, alias fungsi rangkaian tersebut tidak lagi differensiator lagi tapi
sebagai pelewat biasa. Sedangkan untuk gambar 1.15 biasanya digunakan untuk
rangkaian aplikasi yang di integrasikan dengan rangkaian lain. Syarat
perhitungan nilai nilai R1, C1, RF, CF adalah sesuai dengan syarat sebagai
berikut :
sehingga
frekuensi input dilewatkan terlebih dahulu ke R1, C1 , RF, kemudian lewat ke
R1, C1 , CF bila frekuensinya melebihi fa.
Gambar 1.15
Rangkaian praktis (aplikasi) differensial op-amp
Contoh
perhitungan rangkaian differensial Differensiator op-amp dari rangkaian seperti
gambar 1.15 dengan nilai C1 = 1 µF dan Rғ = 1 KΩ. Sumber tegangan Volt
15 ± > Awal sinyal adalah 0 Volt.
Tentukan
tegangan output
a) Vin = 1 Volt (sinyal dc) saat 10
detik.
b) Vin = 20 Volt (sinyal dc) saat 1
detik saat
Jawab:
Gambar sinyal Outputnya :
Gambar
1.16
Output dari rangkaian differensiator Op-amp dengan input
sinyal dc
Gambar
sinyal output untuk differensiator op-amp dari sinyal sinus dan segi empat
adalah seperti pada gambar 2.28.
Gambar
1.17
Sinyal output rangkaian differensiator Op-amp
Untuk menentukan nilai CF dan RF pada
differensiator op-amp ini ditentukan dari fa dan fb dengan hubungan
sebagai berikut :
Contoh soal :
Rancang differensiator op-amp dengan input bervariasi antara
10 Hz sampai 1KHz dengan Vin = 1 sin w
t. Volt (peak to peak)
a. Tenrukan nilai nilai R1,C1, RF, dan CF
b. Tentukan bentuk sinyal vo
Penyelesaian
:
a. Karena
input berkisar 10 sampai 1 KHz, maka di ambil frekuensi tertingginya. Jadi fa =
1 KHz dan rumusnya :
( disesuaikan dengan
nilai kapasitor yang ada ),
b. Bentuk sinyal vo adalah
1.9 Integrator
Rangkaian integrator op-amp ini
juga berasal dari rangkaian inverting
dengan tahanan umpan baliknya diganti dengan kapasitor. Proses perhitungannya sebagai
berikut:
Sama dengan iF sehingga
Sehingga persamaannya menjadi
Batas frequensi yang di lalui kapasitor dalam rangkaian integrator adalah
Biasanya
rangkaian untuk aplikasi ada penambahan tahanan yang diparalel dengan kapasitor
dengan dinama RF. Seperti pada gambar 1.18 rangkaian integrator yang belum di
tambah tahanan yang diparalel dengan kapasitor. Nilai ROM adalah antara nol
sampai dengan R1.
Gambar
1.18
Rangkaian integrator op-amp sederhana
Perhitungan
nilai untuk RF berkaitan dengan komponen lainnya yaitu fa< fb dimana rumus
fa adalah :
Gambar
1.19
Rangkaian integrator op-amp untuk aplikasi (praktis)
1.10 Filter
Aktif
Pada rangkaian dibagian listrik
sering disebut rangkaian seleksi frekuensi untuk melewatkan band frekunsi
tersentu dan menahannya dari frekuensi diluar band itu. Filter dapat
diklafisikasikan dengan arahan :
1.
Analog atau digital
2.
Pasif atau aktif
3.
Audio (AF) atau radio frekuensi (RF)
Filter analog dirancang untuk
memproses sinyal analog, sedang filter digital memproses sinyal analog dengan
menggunakan teknik digital. Filter tergantung dari tipe elemn yang digunakan
pada rangkaiannya, filterakan dibedakan pada filter aktif dan filter pasif.
Elemen pasif adalah tahanan, kapasitor dan induktor. Filter aktif dilengkapi
dengan transistor atau op-amp selain tahanan dan kapasitor. Tipe elemen
ditentukan oleh pengoperasian range frekuensi kerja rangkaian . Misal RC filter
umumnya digunakan untuk audio atau operasi frekuensi rendah dan filter LC atau
kristal lebih sering digunakan pada frekuensi tinggi.
Pertama tama pada bagian ini
menganalisa dan merancang filter analog aktif RC menggunakan op-amp. Pada
frekunsi audio, induktor tidak sering digunakan karenabadannya besar dan mahal
serta
menyerab banyak daya. Induktor juga menghasilkan medan magnit.
Filter
aktif mempunyai keuntungan dibandingkan filter pasif yaitu :
1.
Penguatan
dan frekuensinya mudah diatur, selama op-amp masih memberikan penguatan dan
sinyal input tidak sekaku seperti pada filter pasif. Pada dasarnya filter aktif
lebih gampang diatur.
2.
Tidak
ada masalah beban, karena tahanan inputtinggi dan tahanan output rendah. Filter
aktif tidak membebani sumber input
3.
Harga,
umumnya filter aktif lebih ekonomis dari pada filter pasif, karena pemilihan
variasai dari op-amp yang murah dan tanpa induktor yang biasanya harganya
mahal.
Filter aktif sangat
handal digunakan pada komunikasi dan sinyal prosesing, tapi juga sangat baik
dan sering digunakan pada rangkaian elektronika seperti radio, televisi,
telepon ,radar, satelit ruang angkasa dan peralatan biomedik.
Umumnya
filter aktif digolongkan menjadi :
1.
Low Pass Filter (LPF)
2.
High Pass Filter (HPF)
3.
Band Pass Filter (BPF)
4.
Band Reject Filter (BRF)
5.
All Pass Filter (APF)
Pada masing masing filter aktif menggunakan op-amp
sebagai elemen aktifnya dan tahanan , kapasitor sebagai elemen pasifnya.
Biasanya dan pada umumnya IC 741 ckup baik untuk rangkaian filterv aktif, namun
op-amp dengan high speed seperti LM301, LM318 dan lain lainnya dapat juga digunakan
pada rangkaian filter aktif untuk mendapatkan slew rate yang cepat dan
penguatan serta bandwidth bidang kerja lebih baik.Gambar output dari filter
aktif seperti tampak pada gambar berikut ini, sebagai karakteristik responsi
frekuensi dari 5 filter aktif. Responsi idealnya ditunjukkan dengan garis
terputus putus.
Low Pass Filter mempunyai
penguatan tetap dari 0 Hz sampai menjelang frekuensi cut off fH. Pada fH
penguatan akan turun dengan – 3dB, artinya frekuensi dari 0 Hz sampai fH
dinamakan pass band frekuensi dengan batas 0,707 tegangan output. Sedang
frekuensi yang diredam dibawah –3dB atau 0,707 Vo dinamakan stop band
frekuensi. Perubahan naik turunnya grafik karakteristik tersebut tergantung dari
kualitas komponen selain bentuk rangkaiannya. Pada gambar b terlihat
karakteristik dari high pass filter, artinya adalah frekuensi yang rendah diredam
sampai pada frekuensi cut on yang dianggap sebagai batas frekuensi rendahnya
sehingga diberi nama fL. Batasan stop band adalah 0 < f <fL dan untuk
pass bandnya adalah f > fL. Untuk menghasilkan bad pass filter dan band
reject filter adalah kombinasi antara LPF dan HPF. Bila HPF dirangkai serie
dengan LPF maka akan mendapatkan BPF (Band Pass Filter). Sedangkan kombinasi paralel
antara LPF dan HPF akan
mendapatkan BRF (Band Reject Filter). Gambar rangkaian bisa dilihat dibagian
BPF dan BRF untuk pembahasan lebih lanjut. Gambar e menerangkan output fasa
geser yang dihasilkan oleh All Pass Filter (APF). Pada rangkaian ini sebenarnya
bukan termasuk filter tapi juga bisa digolongkan kefilter aktif.
1.10.1 Low Pass
Filter (LPF)
Low pass filter yang dibahas disini adalah model
butterworth dan beberapa model lainnya antara lain adalah model buffer model
inveting. Seperti tampak pada gambar ini adalah gambar Low Pass Filter
Butterworth dengan perhitungan sebagai berikut :
Gambar
1.20
Rangkaian Low Pass
Filter 20 dB
Gambar 1.21
Frekuensi respon
dari LPF
Pengoprasian
dari Low Pass Filter ini ada 3 macam yaitu :
1. Pada frekuensi yang sangat rendah
yaitu : f < fH,
2. Pada f = fH
3. Pada
f > fH
Jadi
Low Pass Filter akan konstans darin input 0 Hz sampai cut off frequensi tinggi H
f . Pada H f penguatannya
menjadi 0.707 AF dan setelah melewati H f maka akan menurun sampai
konstan dengan seiring penambahan frekuensi. Frekuensi naik 1 decade maka
penguatan tegangan dibagi 10. Dengan kata lain, penguatan turun 20 dB (=20 log
10) setiap kenaikan frekuensi dikali 10. Jadi rate dari penguatan berulang
turun 20dB/decade setelah H f terlampuai Saat in f = H f ,
dikatakan frekuensi cut off yang saat itu turun 3dB (=20 log 0.707) dari 0 Hz.
Persamaan lain menyatakan untuk frekuensi cut off terjadi –3 dB, break
frekuensi, ujung frekuensi.
Contoh
soal :
Rancanglah
LPF dengan cut off 1KHz dan penguatan passband = 2
Penyelesaian
:
Langkah :
1. fH= 1KHz
2. Misal C = 0.01 µF
3. Maka R = 1/ (2π) ( 10³) (10ˉ8) = 15.9 KΩ ( menggunakan potensio
20 KΩ ).
4. Karena Av = 2, Maka R1 dan RF harus sama,
maka R1 = RF = 10 KΩ
5. Gambar rangkaia sebagai berikut
Gambar
1.22
Rangkaian LPF hasil perhitungan
1.10.2 Low Pass
Filter order kedua (-40dB)
Rangkaian LPF dengan –40 dB ini
memerlukan komponen pasif lebih banyak (tanahan dan kapasitor). Seperti tampak
pada gambar , maka perhitungan frekuensi cut off nya adalah ditentukan oleh
nilai komponen R2, R3, C2 dan C3 seperti berikut ini :
Gambar
1.23
Rangkaian Low Pass
Filter dengan –40 dB
Pada rangkaian LPF dengan –40 dB ini persamaan
penguatan tegangan absolutnya adalah:
Contoh
soal :
Rancanglah
LPF dengan order kedua (-40dB) dengan H f = 1 KHz. Gambarkan
rangkaiannya
Penyelesaian
:
Langkah
langkah :
1. H f = 1 KHz
2. Misal C2 = C3 = 0.0047 F m
3. R2 = R3 =
= 33.86 kHz.
4. Menurut responsi teori Butterworth
, bahwa AF = 1,586 untuk order kedua, maka nilai RF dan
Ri
adalah : Misal RI = 27 KW , maka
= 1. 585 sehingga RF menjadi RF = (0.586)(27KW) = 33.86 KW,
RF dipasang potensiometer sebesar 20KW.
5. Rangkaian
LPF yang dimaksud adalah
Gambar 1.24
Rangkaian hasil
perhitungan dan tegangan output terhadap frekuensi
1.10.3 High Pass
Filter 20dB
Rangkaian High Pass Filter ini
perbedaannya dengan Low Pass Filter hanya perpindahan tempat tahanan dan
kapasitor. Perhitungan ouputnya sebagai berikut :
Dimana :
Penguatan tegangan absolut : 
Gambar 1.25
Rangkaian High Pass
Filter –20 dB
Grafik tegangan output terhadap frekuensi adalah :
Gambar 1.26
Output High Pass
Filter Vo vs frekuensi
1.10.4 High Pass
Filter order kedua (-40dB)
Seperti halnya pada LPF order
kedua, HPF order kedua ini cirinya sama, maka persamaan
yang
terjadi adalah :
Dan persamaan untuk penguatan tegangan absolut adalah
:
dengan ketentuan AF = 1.586
Gambar rangkaiannya adalah sebagai berikut :
Gambar
1.27
High Pass Filter
order kedua (-40dB)
Untuk mendapatkan order dalam
filter yang lebih tinggi didapat dari serie dari order satu dengan order dua
yang menghasilkan order ketiga. Sedangkan order dua diserie dengan order dua,
maka menghasilkan filter dengan order keempat.
1.10.5 Band
Pass Filter (BPF)
Pada BPF ini ada 2 macam
rangkaian yaitu BPF bidang lebar dan BPF bidang sempit. Untuk membedakan kedua
rangkaian ini adalah dilihat dari nilai figure of merit (FOM) atau Faktor
kualitas (Q).
Bila Q < 10, maka digolongkan BPF bidang lebar.
Bila Q > 10, maka digolongkan BPF bidang sempit.
Perihtungan
faktor kualitas (Q) adalah
Sedangkan
1.10.5.1 Band
Pass Filter Bidang Lebar
Syarat BPF bidang lebar adalah
Q<10, biasanya didapat dari 2 rangkaian filter HPF dan LPF yang mereka
saling di serie dengan urutan tertentu dan frekuensi cut off harus tertentu.
Misalnya urutan
serie
adalah HPF disusul LPF, dan L f dari HPF harus lebih kecil dari H f dari
LPF.
Contoh
rangkaian
dan perhitungannya adalah seperti gambar berikut.
Gambar 1.28
Rangkaian BPF
bidang lebar
Nilai penguatan tegangan absolutnya adalah :
1.10.5.2 Band Pass
Filter bidang sempit
Syarat BPF bidang sempit adalah
Q > 10. Rangkaian yang digunakan bisa seperti gambar diatas tapi ada
rangkaian khusus untuk BPF bidang sempit. Rangkaian khusus inipun bisa pula
digunakan untuk BPF bidang lebar, tapi spesialisnya untuk bidang sempit.
Rangkaian ini sering disebut multiple feedback filter karena satu rangkaian
menghasilkan 2 batasan L f dan H f . Gambar rangkaian serta contoh
bandwidth bidang sempit diberikan seperti berikut ini. Persamaan persamaannya
pun beda dan tersendiri. Komponen pasif yang digunakan sama dengan komponen pasif
dari LPF dan HPF.
Gambar 1.29
Rangkaian Band Pass
Filter Bidang Sempit
Perhitungan dari rangkain diatas adalah : Dipilih C
C C = = 2 1
Hubungan nilai tahanannya adalah :
dimana nilai F A saat pada C f adalah
Perlu diingat bahwa,
Ada
keuntungan rangkaian ini adalah bila ingin mengganti frekuensi centernya C f
, maka tinggal mengganti nilai R2 saja. Nilai yang baru adalah R2.
1.10.6 Band
Reject Filter
Rangkaian
Band Reject Filter ada 2 macam yaitu
BRF bidang lebar
BRF bidang sempit
1.10.6.1 Band Reject
Filter Bidang Lebar
BRF bidang lebar adalah terdiri
dari rangkaian HPF dan LPF yang dimasukkan ke rangkaian penjumlah. Sedang BRF
bidang sempit adalah terkenal dengan rangkaian Notch Filter yaitu menolak
frekuensi
tertentu.
Contoh
rangkaian Band Reject Filter bidang lebar seperti gambar berikut ini.
Gambar
1.30
Rangkaian Band
Reject Filter Bidang Lebar
Gambar
1.31
Responsi output
Band Reject Filter Bidang Lebar
Rumus rumus untuk LPF dan HPF
serta rangkaian penjumlah berlaku untuk menentukan nilai nilai komponen atau
elemen pasif yang digunakan untuk rangkaian band reject filterbidang lebar ini.
1.10.6.2 Band Reject
Filter Bidang Sempit
Nama band reject filter bidang
sempit ini sering dikenal dengan nama Aktif Notch Filter. Rangkaian menggunakan
model twin-T circuit. Biasanya rangkaian aktif Notch Filter ini digunakan
pada
rangkaian medika. Rumus untuk rangkaian ini adalah :
Gambar rangkaian
nya adalah sebagai berikut :
Gambar 1.32
Rangkaian Notch Filter
1.10.7 All Pass
Filter (APF)
Rangkain APF ini bisa dikatakan
pula bukan termasuk rangkaian filter karena tidak ada yang di filter. Rangkaian
ini terkenal dengan nama delay equalizer atau phase corector, karena
berhubungan dengan fungsi rangkaian dalam aplikasinya. Rangkain ini sering
digunakan pada sinyal telkomunikasi untuk mencocokan fasa sinyalnya atau
sengaja membuat selisih dengan aslinya, dan juga terdapat pada aplikasi yang
lainnya misalnya digunakan untuk stereo buatan di audio, atau untuk penggetar suara
pada gitar elektrik, dan lain lain.
Gambar
1.32
Rangkaian All Pass
Filter
Perhitungan
rumusnya:
Dengan
menyamakan F R R = 1 tegangan outputnya diperoleh dari teori superposisi
seperti :
dimana f
adalah frekuensi input
Sudut
fasanya adalah
2.1 Oscilator
Sampai sejauh ini dipelajari
pada op-amp misalnya untuk segala macam penguatan dan filter filter aktif. Pada
bagian ini menjelaskan op-amp untuk oscilator yang dapat diatur atur frekuensi
outputnya
dengan gelombang yang bervariasi pula. Pada dasarnya fungsi oscilator adalah
sinyal AC atau gelombang tegangan saja.
Lebih spesifik lagi, oscilator adalah proses pengulangan bentuk gelombang tertentu pada amplitudo dan frekuensi yang tetap tanpa eksternal input. Oscilator sering digunakan pada radio, televisi, komputer, dan pesawat komunikasi. Oscilator terdiri dari beberapa macam jenisnya, walaupun begitu, oscilator oscilator itu mempunyai prinsip kerja yang sama.
Lebih spesifik lagi, oscilator adalah proses pengulangan bentuk gelombang tertentu pada amplitudo dan frekuensi yang tetap tanpa eksternal input. Oscilator sering digunakan pada radio, televisi, komputer, dan pesawat komunikasi. Oscilator terdiri dari beberapa macam jenisnya, walaupun begitu, oscilator oscilator itu mempunyai prinsip kerja yang sama.
2.1.1 Prinsip kerja oscilator
Oscilator adalah amplifier umpan
balik ( feed back) yang outputnya diumpan balikkan keinput melalui rangkaian
umpan baliknya. Kalau sinyal umpan baliknya adalah suatu besaran atau fasa,
maka rangkaian akan menghasilkan sinyal bolak balik atau tegangan. Asal usul
oscilator dinyatakan pada gambar berikut ini yang menerangkan awal mula tidak
ada tegangan input. Prinsip kerja ini dinamakan umpan balik positif (positif
feed back). Persamaannya adalah :
Dengan menggunakan hubungan ini maka persamaan menjadi
Dimana 0 = in v dan 0 ¹ o v didapat A
v B = 1
Dialihkan kebentuk polar adalah :
2.1.2 Oscilator
fasa geser
Oscilator ini terdiri dari
rangkaian RC kaskade sebagai rangkaian feedbacknya. Rangkaian feedback adalah
rangkaian output memberikan ke input penguat. Penguat menggunakan inverting amplifier,
maka ada beberapa sinyal yang diproses terbalik (invert) dengan beda 180o ke
output.
Yang membuat perbedaan 180o ke
output itu adalah rangkaian RC kaskade sebagai rangkaian feedback. Frekuensi
yang dihasilkan berdasarkan perhitungan matematika tentang fasa ini dengan cara
matrik, maka didapat persamaan sebagai berikut :
Pada penguatan tertentu sekurang kurangnya 29 yaitu :
Gambar
1.33
Rangkaian oscilator
fasa geser (phase shift)
2.1.3 Oscilator
Jembatan Wien
Karena ringkasnya dan stabilnya
dari output oscilator dan sering digunakan pada audiofrekuensi adalah rangkaian
oscilator jembatan Wien. Output rangkaian ini adalah :
Penguatan tegangannya adalah :
Jadi
atau
Rғ = 2 R1
Gambar
berikut ini adalah contoh Jembatan Wien Oscilator dengan output fo = 965 Hz
Gambar
1.34
Rangkaian Oscilator
Jembatan Wien
2.1.4 Rangkaian Oscilator Quadrature
(Quadrature Oscilator Circuit)
Rangkaian oscilator ini menghasilkan 2 output dengan
perbedaan fasa 90o yaitu berupa gelombang sinus dan gelombang cosinus. Ada 2
op-amp yang digunakan, untuk op-amp pertama beroperasi pada rangkaian
noninverting sebagai noninverting integrator. Untuk op-amp yang kedua beroperasi
pada integrator murni. Frekuensi oscilasi yang terjadi adalah :
R1 C1 = R2 C2 = R3 C3 = RC dan 
Contoh bila fo=159 Hz
Ditentukan C = 0.01 µ F , maka
Untuk
mwndapatkan koreksi kesalahan atau melesetnya nilai komponen bisa diganti R1
dengan potensio yang bernilai 200KW.
Gambar
rangkaian oscilator quadarture adalah seperti berikut ini.
Gambar
1.35
Quadrature
Oascilator
2.1.5 Oscilator
gelombang segi empat
Rangkaian ini seperti rangkaian
komparator tapi ada komponen C pada kakki inverting. Sinyalnya adalah saturasi
positif dan negatif.
Perhitungannya
:
Untuk
R2 = 1.16 R1 maka nilai 
Gambar
rangkaian seperti berikut ini
Gambar
1.36
Rangkaian Oscilator
segi empat
2.1.6 Oscilator
gelombang segitiga
Rangkaian
segitiga ada 2 macam cara membuatnya yaitu :
a. Dari rangkaian oscilator segi empat yang dilanjutkan
ke integrator.
b. Dari kombinasi rangkaian komparator dan integrator
yang menghasilkansegitiga
Rangkaian dari oscilator segiempat ke integrator sama
rumusnya yaitu untuk mencari frekuensi
osilasinya adalah:
Untuk
R2 = 1.16 R1 maka nilai 
Gambar 1.37
Rangkaian Oscilator
ouput segi tiga kesatu
Untuk rangkaian yang lain adalah kombinasi antara
rangkaian komparator dan rangkaian integrator
rumusnya adalah :
Rangkaian
nya adalah seperti gambar berikut ini.
Gambar 1.38
Rangkaian oscilator gelombang segi tiga kedua
2.1.7 Rangkaian
Oscilator gelombang segitiga gergaji
Rangkaian oscilator segitiga
gigigergaji ini adalah sama dengan segitiga biasa cuma hanya ada penambahan
potensiometer yang diletakkan pada kaki noninverting dengan nilai 20 KW.
Rangkaiannya
terlihat seperti gambar berikut ini.
Gambar
1.39
Rangkaian segitiga gigi gergaji
Untuk rangkaian ini adalah
kombinasi antara rangkaian komparator dan rangkaian integrator tapi duty cycle
pulsanya tidak selalu 50 % dan tergantung dari pengaturan potensiometer yang
terpasang
,rumusnya
adalah :
2.1.8 Voltage Control Oscilator (VCO)
Adalah oscilator yang ouput
frekuensinya tergantung dari input rangkaian seperti gambar
rangkaian
berikut ini.

Gambar
1.40
Rangkaian Voltage Control Oscilator dan hasilnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar